Selasa, 23 Juni 2015

Hadits Palsu tentang Keutamaan Sholat Tarawih dari Malam Pertama Hingga Malam Terakhir


Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz
Di bulan suci Romadhon terdapat suatu amalan ibadah yang sangat dianjurkan untuk dilaksanakan pada malam hari, yaitu sholat Tarawih. Dan sholat Tarawih ini memiliki keutamaan yang besar bagi setiap Muslim Dan muslimah yang mengerjakannya dengan Niat ikhlas karena Allah Dan mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Diantara keutamaan sholat Tarawih berdasarkan hadits-hadits SHOHIH ialah:
1. Barangsiapa mengerjakan sholat Tarawih karena keimanannya kpd Allah Dan berharap pahala darinya, maka dosa-dosanya yg telah lalu Akan diampuni Oleh Allah.
2. Barangsiapa mengerjakan sholat Tarawih berjama’ah hingga selesai maka dicatat baginya pahala seperti orang yg Beribadah semalam penuh.

Akan tetapi, belakangan ini banyak sekali beredar broadcast, atau SMS, atau artikel2 Dan ceramah2 yg menjelaskan tentang keutamaan sholat Tarawih Dari malam Pertama hingga malam terakhir Dari bulan Romadhon. Benarkah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah menerangkan keutamaan tsb? Dan bagaimanakah padangan para ulama terhadap derajat hadits tsb? Serta bolehkah kita beramal ibadah berdasarkan hadits tsb?
TERJEMAH HADITS:
Diriwayatkan dari Ali Bin Abi Thalib radhiyallahu anhu, bahwa ia berkata: Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam pernah ditanya tentang keutamaan Shalat Tarawih di Bulan Ramadhan, maka Beliau bersabda:
1. MALAM PERTAMA:
SEORANG MUKMIN AKAN DIKELUARKAN DARI DOSANYA SEPERTI IA DILAHIRKAN DARI PERUT IBUNYA
2. MALAM KEDUA:
DIAMPUNKAN BAGINYA DAN BAGI KEDUA IBU BAPAKNYA JIKA KEDUNYA ITU BERIMAN.
3. MALAM KETIGA:
BERSERULAH SEORANG MALAIKAT DARI BAWAH ARASY: MULAILAH OLEHMU DENGAN BERAMAL, ALLAH Subhanahu wa Ta’ala TELAH MENGAMPUNKAN DOSA-DOSAMU YANG TELAH LALU.
4. MALAM KEEMPAT:
DIA MEMPEROLEH PAHALA SEPERTI PAHALA MEMBACA TAURAT, INJIL, DAN AL-FURQAAN.
5. MALAM KELIMA:
ALLAH BERIKAN KEPADANYA PAHALA SEPERTI PAHALA ORANG YANG SHOLAT DI MASJIDIL HARAM, MASJID NABAWI DI MADINAH, DAN MASJIDIL AQSHA.
6. MALAM KEENAM:
ALLAH BERIKAN KEPADANYA PAHALA ORANG YANG THAWAF PADA ALBAITUL MAMUR DAN MEMOHONKAN AMPUNNAN BAGINYA OLEH SEGALA BATU DAN LUMPUR.
7. MALAM KETUJUH:
MAKA SEOLAH-OLAH DIA MENGALAMI ZAMAN NABI MUSA AlaihisSalam DAN MENOLONGNYA DALAM MELAWAN FIR’AUN DAN HAAMAAN.
8. MALAM KEDELAPAN:
ALLAH BERIKAN KEPADANYA APA-APA YANG DIBERIKAN KEPADA NABI IBRAHIM AlaihisSalam.
9. MALAM KESEMBILAN:
MAKA SEOLAH-OLAH IA MENYEMBAH ALLAH SUbhanahu Wata’ala SEPERTI IBADAHNYA NABI Shallallahu alaihi wasallam.
10. MALAM KESEPULUH:
ALLAH BERIKAN REZEKI KEPADANYA BERUPA KEBAIKAN DUNIA DAN AKHIRAT.
11. MALAM KESEBELAS:
IA KELUAR DARI DUNIA SEPERTI PADA SAAT IA DILAHIRKAN OLEH IBUNYA.
12. MALAM KEDUABELAS:
IA DATANG PADA HARI KIAMAT DENGAN WAJAH LAKSANA BULAN DI MALAM KEEMPAT BELAS (malam purnama).
13. MALAM KETIGA BELAS:
IA DATANG PADA HARI KIAMAT DALAM KEADAAN AMAN DARI SEGALA KEJAHATAN.
14. MALAM KEEMPAT BELAS:
PARA MALAIKAT DATANG UNTUK MENYAKSIKAN BAHWA DIA TELAH MELAKUKAN SHOLAT TARAWIH.
15. MALAM KELIMA BELAS:
PARA MALAIKAT DAN PARA MALAIKUT PEMIKUL ARASY DAN KURSI ALLAH MEMINTAKAN AMPUNAN UNTUKNYA.
16. MALAM KEENAM BELAS:
ALLAH MENULISKAN BAGINYA KESELAMATAN DARI SIKSA NERAKA DAN KEBEBASAN UNTUK MASUK KE DALAM SURGA.
17. MALAM KETUJUH BELAS:
IA DIBERI PAHALA SEPERTI PAHALA PARA NABI.
18. MALAM KEDELAPAN BELAS:
ADA SEORANG MALAIKAT YAN BERSERU: WAHAI HAMBA ALLAH, SESUNGGUHNYA ALLAH TELAH RIDHO KEPADAMU DAN KEDUA IBU-BAPAKMU.
19. MALAM KESEMBILAN BELAS:
ALLAH AKAN MENINGGIKAN DERAJATNYA DI DALAM SURGA FIRDAUS.
20. MALAM KEDUA PULUH:
IA DIBERI PAHALA PAHALA ORANG-ORANG YANG MATI SYAHID DAN ORANG-ORANG SALEH.
21. MALAM KEDUAPULUH SATU:
ALLAH BUATKAN UNTUKNYA SEBUAH RUMAH YANG TERBUAT DARI CAHAYA DI DALAM SURGA.
22. MALAM KEDUAPULUH DUA:
IA DATANG PADA HARI KIAMAT DALAM KEADAAN AMAN DARI SETIAP KESEDIHAN DAN KESUSAHAN.
23. MALAM KEDUA PULUH TIGA:
ALLAH BUATKAN UNTUKNYA SEBUAH KOTA DI DALAM SURGA.
24. MALAM KEDUA PULUH EMPAT:
IA MENDAPATKAN 24 MACAM DOA YANG MUSTAJAB.
25. MALAM KEDUAPULUH LIMA:
ALLAH MENGHAPUSKAN DARINYA SIKSA KUBUR.
26. MALAM KEDUAPULUH ENAM:
ALLAH MENINGGIKAN BAGINYA PAHALA SELAMA 40 TAHUN
27. MALAM KEDUAPULUH TUJUH:
IA AKAN DIMUDAHKAN ALLAH DALAM MENYEBERANGI JEMBATAN SHIROTAL MUSTAQIM SECEPAT KILAT MENYAMBAR.
28. MALAM KEDUAPULUH DELAPAN:
ALLAH MENINGGIKAN BAGINYA SERIBU DERAJAT DI DALAM SURGA.
29. MALAM KEDUAPULUH SEMBILAN:
ALLAH BERIKAN KEPADANYA PAHALA SERIBU HAJI YANG DITERIMA.
30. MALAM KETIGA PULUH:
ALLAH SUBHANAHU WATA’ALA BERFIRMAN: WAHAI HAMBAKU, MAKANLAH OLEHMU DARIPADA BUAH-BUAHAN SURGA DAN MANDILAH DARI AIR SALSABIL DAN MINUMLAH DARI AIR ALKAUTSAR. AKU LAH TUHANMU DAN ENGKAU ADALAH HAMBAKU.
(Hadits ini disebutkan oleh Syaikh Utsman bin Hasan bin Ahmad al-Khubari dalam kitab Durrotun Nashihiin Fil Wa’zhi wal Irsyaad, hal. 16 – 17).
DERAJAT HADITS:
Bismillah. Saudara Dan saudariku yg semoga dirahmati Allah, hadits tersebut di atas yang menerangkan tentang keutamaan sholat Tarawih Dari Malam pertama hingga malam terakhir derajatnya maudhu’ (PALSU), karena Tidak Ada asal usulnya (yakni Tidak jelas sumbernya), Dan Tidak mempunyai sanad yg dpt menghubungkan hadits tsb kpd Rasulullah shallallahu alaihi wasallam secara valid Dan akurat.

Syaikh Abdurrahman As-Suhaim hafizhohullah ketika ditanya tentang derajat hadits tsb, Beliau katakana: “Tanda-tanda kepalsuan hadits tsb nampak jelas. Susunan kalimatnya kaku (tidak fasih). Dan yg demikian ini sangat Tidak mungkin diucapkan Oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam.”
Komite tetap untuk urusan Fatwa Dan Riset Ilmiyyah Saudi Arabia yg diketuai Oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menyatakan bahwa hadits tsb Tidak Ada asal-usulnya. Dan ini termasuk Dlm golongan hadits2 PALSU Yg DIDUSTAKAN atas Nama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. (Lihat : Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah Lil Buhuuts Al-Ilmiyyah Wal Ifta no. 8050, juz IV, hal 476-480. Atau KLIK Link Berikut ini:http://www.alifta.net/Fatawa/FatawaDetails.aspx?lang=ar&IndexItemID=76&SecItemHitID=80&ind=3&Type=Index&View=Page&PageID=1348&PageNo=1&BookID=3&Title=DisplayIndexAlpha.aspx).
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah berkata tentang kitab Durrotu An-Naashihiin Fil Wa’zhi wal Irsyaad: “Kitab ini Tidak dapat dijadikan sandaran (dalam ilmu dan amal, pent), karena ia mengandung Hadits-Hadits Dho’if (lemah) dan Maudhu’ (Palsu).” (Lihat:http://www.binbaz.org.sa/mat/3492).
Demikian penjelasan singkat tentang derajat hadits keutamaan sholat tarawih dari malam pertama hingga malam terakhir dari bulan Romadhon yg banyak beredar di berbagai media cetak dan elektronik maupun melalui ceramah-ceramah, apalagi di bulan SUCI ROMADHON yg penuh berkah ini.
Hendaknya setiap Muslim Dan muslimah merasa cukup dengan ayat-ayat Al-Quran Dan hadits-hadits SHOHIH sebagai landasan dasar Dlm Beribadah kpd Allah Ta’ala.
Semoga Allah Ta’ala melindungi kita semua dari beramal ibadah kepada-Nya berdasarkan hadits-hadits lemah dan palsu, Dan melindungi kita dari bahaya berdusta atas nama Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Wallahu a’lam bish-Showab. Wabillahi at-Taufiq.

KEUTAMAAN SHOLAT TARAWIH BERDASARKAN HADITS-HADITS SHOHIH


Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz

Sholat Tarawih merupakan salah satu amal ibadah yang Allah syari’atkan bagi para hamba-Nya di bulan suci Romadhon. Dan hukum sholat Tarawih adalah SUNNAH sebagaimana yang disepakati oleh para ulama.

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Yang dimaksud dengan qiyamu Ramadhan adalah sholat Tarawih, dan para ulama telah bersepakat bahwa sholat Tarawih itu hukumnya mustahab (sunnah/dianjurkan).” (Lihat Syarh Shohih Muslim VI/282, Dan kitab Al-Majmu’ III/526).

Keutamaan Shalat Tarawih

Pada beberapa Waktu yang lalu, kami telah menposting hadits PALSU tentang keutamaan sholat Tarawih Dari malam pertama hingga malam ketiga puluh (terakhir) dari bulan Romadhon. Maka pada kesempatan ini kami akan menyebutkan keutamaan sholat Tarawih berdasarkan hadits-hadits yang SHOHIH dari Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Keutamaan Pertama: 
Allah Ta’ala akan mengampuni dosa-dosa yang telah lalu bagi siapa saja yang melakukan sholat Tarawih dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala dan ridho Allah semata. Bukan karena riya’ dan sum’ah (ingin dilihat dan didengar amal kebaikannya oleh orang lain.

Hal ini berdasarkan hadits SHOHIH berikut ini:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلّى الله عليه وسلّم : « مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ »
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan (yakni sholat malam pada bulan zromadhon) karena iman dan mengharap pahala dan ridho Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. al-Bukhari no. 37 dan Muslim no. 759).

Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Yang dimaksud qiyam Ramadhan adalah sholat Tarawih.”

Ibnul Mundzir rahimahullah menerangkan berdasarkan nash (tekstual) hadits ini bahwa yang dimaksud “pengampunan terhadap dosa-dosa yang telah lalu dalam hadits ini adalah bisa mencakup dosa besar dan dosa kecil.

Sedangkan imam An Nawawi mengatakan bahwa yang dimaksudkan pengampunan dosa di sini adalah khusus untuk dosa-dosa kecil saja. Karena dosa-dosa besar tidaklah diampuni dengan sebab melakukan amal-amal Sholih, akan tetapi hanya dengan melakukan taubah Nasuha, yakni taubah yang sempurna.

Keutamaan Kedua: 
Barangsiapa melaksanakan sholat Tarawih berjamaah bersama imam hingga selesai, maka akan dicatat baginya pahala seperti orang yang melakukan qiyamul lail semalam penuh.

Hal ini berdasarkan Hadits Shohih berikut ini:

Dari Abu Dzar rdhiyallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah mengumpulkan keluarga dan para sahabatnya. Lalu beliau bersabda:

إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةً

“Sesungguhnya barangsiapa yang shalat (Tarawih) bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyamul lail satu malam penuh.” (HR. An-Nasai no.1605, At-Tirmidzi no.806, Ibnu Majah no.1327, dan selainnya. Dan hadits ini dinyatakan SHOHIH oleh At-Tirmidzi dan Syaikh al-Albani dalam Irwa’ Al-Gholil no. 447).

Demikian keutamaan sholat Tarawih berdasarkan hadits-hadits Shohih dari Nabi shallallahu alaihi wasallam. Semoga Allah Ta’ala memberikan Taufiq dan pertolongan-Nya kepada kita semua untuk dapat istiqomah dala

m melaksanakan sholat Tarawih dan ibadah lainnya di bulan Romadhon dan di bulan-bulan setelahnya. Amiin.

Senin, 06 April 2015

La Ma’daremmeng, Karaeng Pattingalloang, dan Tuanta Salamaka


Oleh 
Salim A. Fillah

KEPADA: PAK JK

Pak JK yang kami hormati, mengenang perang itu barangkali pahit..
Tetapi rasa ta’zhim pada nilai-nilai yang diperjuangkan Raja Bone XIII La Ma’daremmeng Sultan Muhammad Saleh, sebagaimana hormat kami kepada tokoh dari jazirah Sulawesi sebesar Bapak, tak pernah pudar. La Ma’daremmeng, semoga Allah menyayanginya, kala itu rela harus berhadapan dengan kekuatan sebesar Gowa-Tallo demi keyakinannya untuk menegakkan kalimat Allah dan sunnah RasulNya.

Sejak Islam datang ke Bone di masa ayahandanya, betapa bersemangat orang besar Bugis ini agar agama yang penuh rahmat menjadi nafas dan aliran darah seluruh kerajaannya. Perbudakan, satu di antara hal yang sangat lazim di zaman itu dan turut menjadi penopang kelangsungan kuasa para raja, telah mengusik nurani La Ma’daremmeng. Kesetaraan seluruh insan dalam naungan Islam adalah impian yang harus dia bayar amat mahal.

Orang yang harus memimpin 40.000 prajurit gabungan Gowa-Tallo, Wajo, Soppeng, dan Sidenreng untuk mengalahkan La Ma’daremmeng, sang perdana menteri Gowa sekaligus Raja Tallo, I Mangngadaccinna Daeng Sitaba Karaeng Pattingalloang Sultan Mahmud Tuminanga Ri Bontobiraeng, bukannya tak setuju sepenuhnya pada perubahan yang dihela La Ma’daremmeng. Karaeng Pattingalloang hanya merasa hal ini belum waktunya. Ada tahapan yang harus ditapaki sebelumnya agar harmoni masyarakat tak terganggu. Dia mempertanyakan, “Bukankah Sang Nabi juga tak serta-merta menghapus perbudakan? Melainkan selangkah demi selangkah, dengan amat manusiawi?”

Pak JK yang terhormat..
Diilhami oleh imannya, betapa maju pemikiran La Ma’daremmeng. Perjuangannya 220 tahun mendahului abolisi perbudakan yang diproklamasikan Abraham Lincoln hingga memicu perang saudara Amerika. Demikian pula kami pernah melihat Bapak, ketika mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, membawa cara-cara kerja progresif lagi segar mengelola negeri ini, sesuatu yang senantiasa jadi kenangan manis bagi kami. Sebagaimana La Ma’daremmeng digerakkan oleh imannya, demikianlah kami selalu mendoakan Bapak agar istiqamah menjadi pemimpin yang selalu dijiwai oleh Islam di tiap langkahnya.

Dan Karaeng Pattingalloang sendiri, betapa amat tergerak oleh sebuah kalimat bijak, “Hikmah adalah milik mukmin yang hilang. Maka di manapun dia menemukannya, dialah yang paling berhak mengambilnya.” Karaeng Pattingalloang tahu, gemerlap peradaban Islam di Baghdad telah terbenam 400 tahun sebelum dia bertakhta, dan kilau Cordoba telah padam 2 abad sebelum kelahirannya. Maka dari bangsa-bangsa yang telah menyabet kerlip peradaban Islam untuk pencerahan mereka, bangsa Eropa, amat bersemangat dia belajar.

Menguasai bahasa Arab, Inggris, Perancis, Spanyol, Portugal, Belanda, Jawa, dan Melayu selain bahasa Bugis dan Makassar; khazanah ilmu dunia terbuka bagi Karaeng Pattingalloang. Demi mengenal dunia, dengan penuh minat didatangkannya bola dunia terbesar di zamannya, bergaris-tengah 1,3 meter, buatan kartografer termasyhur, Joan Blaeu; tiba 7 tahun kemudian di Sombaopu setelah dipesan. Semangat Karaeng Pattingalloang akan ilmu menggemparkan para cendikia Eropa, hingga sastrawan besar Joost van den Vondel menghadiahkan puisi pujian untuknya. Kelak ketika Joan Blaeu merampungkan Atlas Novus, peta dunia terbesar yang dikodifikasinya dari peta-peta susunan sang legendaris Gerrard Mercator, digambarnya Karaeng Pattingalloang beristiwa di ufuk langit timur, menjangka dunia dengan busur kartografinya.

Setahun kemudian, tiba pula teleskop rancangan Galileo yang kelak menemani malam-malam Karaeng Pattingalloang untuk mencermati langit, mempresisikan perhitungan kalender hijriah, memetakan bintang-bintang, dan membantunya merumuskan kebijakan terkait musim bagi pertanian dan pelayaran. Perpustakaannya dipenuhi buku berbagai bahasa, yang dengan penuh semangat dia minta untuk diterjemahkan, termasuk risalah Turki ‘Utsmani tentang pembuatan meriam, naskah dari Belanda tentang bendungan, serta buku dari Inggris tentang pertahanan kota dan perbentengan. Demi memuaskan dahaga ilmiahnya pula, dia minta didatangkan ke Makassar unta Arabia yang tersebut dalam Al Quran, juga gajah seperti yang dipakai Abrahah menyerang Ka’bah.

Ilmu pengetahuan dan wawasan antar-bangsanya yang demikian luas telah membuat Karaeng Pattingalloang memerintah dengan bijaksana, mendampingi Raja Gowa XV, I Mannuntungi Daeng Mattola Karaeng Ujung Karaeng Lakiung Sultan Malikussaid Tuminanga Ri Papambatunna. Maka demikian pula kami harapkan dari putra Nusantara pewarisnya seperti Anda, Pak JK kala mendampingi Presiden Jokowi dan selanjutnya, seperti pula telah kami saksikan dulu.

Pak JK yang terhormat..
Salah satu warisan kebijaksanaan dari Karaeng Pattingalloang, yang hari-hari ini amat merisaukan kami adalah “Lima pammajenganna matena butta lompoa”. Ya, menurutnya ada lima penyebab keruntuhan sebuah negara. Pertama, “Punna tenamo naero nipakainga Karaeng Manggauka”, apabila kepala negara yang memerintah tak lagi mau dinasehati. Kedua, “Punna tenamo tumangngaseng ri lalang pa’ rasangnga”, apabila tak ada lagi cendikiawan yang tulus mengabdi di dalam negeri. Ketiga, “Punna tenamo gau lampo ri lalang pa’ rasangnga”, jika terlalu banyak kasus hukum di dalam negeri, hingga menyusupkan muak di hati. Keempat, “Punna angngallengasemmi’ soso’ pabbicaraya”, jika banyak hakim dan pejabat suka makan suap. Dan kelima, “Punna tenamo nakamaseyangi atanna Manggauka”, jika penguasa yang memerintah tak lagi menyayangi rakyatnya.

Pak JK, Bapak lebih dapat melihat dibanding kami seberapa dari tanda-tanda yang dikemukakan Karaeng Pattingalloang ini mencekam negara kita. Maka betapa kami, kaum muslimin negeri ini, amat berharap Pak JK punya peran yang lebih besar, punya sikap yang lebih jelas, punya tindakan yang lebih gesit. Latar belakang Pak JK yang dari HMI, dari NU, dan dari Dewan Masjid; amat menentramkan kami ketika Bapak mendampingi Presiden Jokowi, meski memang Anda berdua sejujurnya bukan pilihan utama kami. Harapan bahwa kaum muslimin Indonesia akan tetap memiliki seorang “Bapak” dalam segala makna yang dikandung oleh kata itu bersiponggang dalam hati.

Terlebih hari-hari ini Pak, ketika secara ekonomi rupiah kita melemah, BBM kita naik turun, dan rakyat menatap masa depan dengan berkabut; ketika secara politik kisruh antar pemimpin partai, pejabat dan lembaga negara bekerja tebak-tebak arah, dan masyarakat sukar menemukan keteladanan pemimpin; ketika dalam hukum dan hak asasi para koruptor besar kian melenggang, para pembawa ideologi menyimpang kanan maupun kiri kian berdendang, tapi kebebasan berwawasan ummat ditebas atas nama radikalisme dengan definisi yang tak sahih; serta setumpuk rasa gelisah di hati kami. Kami merindukan pengayoman dari pemimpin yang seyakin La Ma’daremmeng dan sebijak Karaeng Pattingalloang.

Pak JK, betapapun bijaknya, Karaeng Pattingalloang pernah mengabaikan 1 hal yang berujung berakhirnya kejayaan Gowa-Tallo di masa menantunya, Sultan Hassanuddin, hanya berselang beberapa tahun setelah wafatnya. Satu hal penting itu adalah nasehat ‘ulama.

Adalah Tuanta Salamaka Syaikh Yusuf Al Makassari, ‘alim mulia yang kepahlawanannya membentang dari Makassar, Banten, Srilanka, hingga Afrika Selatan yang satu hari menemuinya dan berkata, “Telah kulihat alamat keruntuhan Butta Gowa. Oleh sebab itu, pertama, hentikan dan cegahlah rakyat menyembah berhala (anynyombaya saukang). Yang kedua, hentikan menghormati pusaka kerajaan secara berlebihan (appakala’biri’ sukkuka gaukang). Yang ketiga, hentikan para bangsawan dan rakyat paguyuban kerajaan bermadat (a’madaka ri bate salapanga). Yang keempat, hentikan pasukan kerajaan minum tuak (angnginunga ballo’ ri ta’bala’ tubarania). Yang kelima, hentikan perjudian di pasar-pasar (pa’botoranga ri pasap-pasaraka).

Penolakan Karaeng Pattingalloang atas nasehat Tuanta Salamaka ini, dengan alasan demi tak mengusik harmoni dan demi pendapatan negara, telah menjadi sebab melemahnya negara. Sepeninggalnya, rakyat lemah ideologinya, lemah motivasinya; lemah oleh madat, lemah oleh khamr, dan lemah oleh judi. Jadilah lemah iman, lemah tata masyarakat, lemah tentara, lemah bangsawan, maka melemah pula dukungan terhadap raja dan perjuangannya. Maka seperti diperkirakan oleh Syaikh Yusuf, ketika Cornelis Speelman dan armadanya menyerang, Gowa-Tallo harus takluk dengan Perjanjian Bongaya.

Pak JK, bertakhtalah Anda di dalam hati kaum muslimin Indonesia, sebagaimana Karaeng Pattingalloang beristiwa di ufuk tinggi Atlas Novus anggitan Joan Blaeu. Bahkan lebih dari itu. Sebab dalam doa kami, semoga engkau mewarisi iman kokoh La Ma’deremmeng, dan senantiasa mendengarkan bimbingan para ‘ulama yang tulus seperti Tuanta Salamaka, Syaikh Yusuf Al Makassari. Kami murid dari murid dari murid para ‘ulama, sangat rindu melihat pemimpin yang taqwa membuatnya menangis di hadapan Rabbnya, dan adil membuatnya dicintai seluruh rakyatnya. Pak JK, harapan itu kami hadiahkan kepada Anda.

Titip salam kami untuk Bapak Presiden Jokowi yang amat sibuk dengan kerja, kerja, kerja, dan tanggungjawabnya. Percayalah, doa-doa kami senantiasa mengiringi kerja keras Bapak berdua. Bahwa surat ini saya tujukan kepada Anda, Pak JK, entah mengapa, ini soal hati yang merasa lebih dekat. Dan barangkali di bawah sadar kami tak hendak menambahi beban Presiden Jokowi, yang jauh lebih banyak punya janji kepada rakyat negeri ini daripada Pak JK.

Akhirnya seperti dikatakan peribahasa Bugis, “Aju maluruemi riala parewa bola”, hanyalah kayu yang lurus dijadikan ramuan rumah. Hanyalah pemimpin yang jujur lagi penuh kasih, dapat menjadi pelindung dan penaung kami, rakyat Indonesia, dari segala marabahaya.

dari hamba Allah yang tertawan dosanya,
salim a. fillah
pengasuh majelis jejak nabi & pesantren masyarakat merapi merbabu
© 2015 Salim A. Fillah.

Selasa, 06 Januari 2015

Agar Jangan Sampai dikatakan Tiada Lagi di Kalangan Muslimin ...



Inilah True Story yang terjadi pada zaman kekhalifahan Umar bin Khattab.

Suatu hari Umar sedang duduk dibawah pohon kurma dekat Masjid Nabawi. Di sekelilingnya para sahabat sedang asyik berdiskusi sesuatu. Di kejauhan datanglah tiga orang pemuda. Dua pemuda memegangi seorang pemuda lusuh yang diapit oleh mereka.

Ketika sudah berhadapan dengan Umar, kedua pemuda yang ternyata kakak beradik itu berkata,

"Tegakkanlah keadilan untuk kami, wahai Amirul Mukminin!" "Qishashlah pembunuh ayah kami sebagai had atas kejahatan pemuda ini!".

Umar segera bangkit dan berkata,

"Bertakwalah kepada Allah, benarkah engkau membunuh ayah mereka wahai anak muda?"
Pemuda lusuh itu menunduk sesal dan berkata, "Benar, wahai Amirul Mukminin."


"Ceritakanlah kepada kami kejadiannya.", tukas Umar.

Pemuda lusuh itu memulai ceritanya,

"Aku datang dari pedalaman yang jauh, kaumku memercayakan aku untuk suatu urusan muammalah untuk kuselesaikan di kota ini. Sesampainya aku, kuikat untaku pada sebuah pohon kurma lalu kutinggalkan dia. Begitu kembali, aku sangat terkejut melihat seorang laki-laki tua sedang menyembelih untaku, rupanya untaku terlepas dan merusak kebun yang menjadi milik laki-laki tua itu. Sungguh, aku sangat marah, segera kucabut pedangku dan kubunuh ia. Ternyata ia adalah ayah dari kedua pemuda ini."

"Wahai, Amirul Mukminin, kau telah mendengar ceritanya, kami bisa mendatangkan saksi untuk itu.", sambung pemuda yang ayahnya terbunuh. "Tegakkanlah had Allah atasnya!" timpal yang lain.

Umar tertegun dan bimbang mendengar cerita si pemuda lusuh.

"Sesungguhnya yang kalian tuntut ini pemuda shalih lagi baik budinya. Dia membunuh ayah kalian karena khilaf kemarahan sesaat', ujarnya. "Izinkan aku, meminta kalian berdua memaafkannya dan akulah yang akan membayarkan diyat atas kematian ayahmu", lanjut Umar.

"Maaf Amirul Mukminin," sergah kedua pemuda masih dengan mata marah menyala, "kami sangat menyayangi ayah kami, dan kami tidak akan ridha jika jiwa belum dibalas dengan jiwa".

Umar semakin bimbang, di hatinya telah tumbuh simpati kepada si pemuda lusuh yang dinilainya amanah, jujur dan bertanggung jawab.

Tiba-tiba si pemuda lusuh berkata, "Wahai Amirul Mukminin, tegakkanlah hukum Allah, laksanakanlah qishash atasku. Aku ridha dengan ketentuan Allah" ujarnya dengan tegas. "Namun, izinkan aku menyelesaikan dulu urusan kaumku. Berilah aku tangguh 3 hari. Aku akan kembali untuk diqishash".

"Mana bisa begitu?", ujar kedua pemuda.

"Nak, tak punyakah kau kerabat atau kenalan untuk mengurus urusanmu?" tanya Umar.

"Sayangnya tidak ada Amirul Mukminin, bagaimana pendapatmu jika aku mati membawa hutang pertanggungjawaban kaumku bersamaku?" pemuda lusuh balik bertanya.

"Baik, aku akan meberimu waktu tiga hari. Tapi harus ada yang mau menjaminmu, agar kamu kembali untuk menepati janji." kata Umar.

"Aku tidak memiliki seorang kerabatpun di sini. Hanya Allah, hanya Allah lah penjaminku wahai orang-orang beriman," rajuknya.

Tiba-tiba dari belakang hadirin terdengar suara lantang, "Jadikan aku penjaminnya wahai Amirul Mukminin".
Ternyata Salman al Farisi yang berkata..


"Salman?" hardik Umar marah, "Kau belum mengenal pemuda ini. Demi Allah, jangan main-main dengan urusan ini".

"Perkenalanku dengannya sama dengan perkenalanmu dengannya, ya Umar. Dan aku mempercayainya sebagaimana engkau percaya padanya", jawab Salman tenang.

Akhirnya dengan berat hati Umar mengizinkan Salman menjadi penjamin si pemuda lusuh.

Pemuda itu pun pergi mengurus urusannya.

Hari pertama berakhir tanpa ada tanda-tanda kedatangan si pemuda lusuh. Begitupun hari kedua.
Orang-orang mulai bertanya-tanya apakah si pemuda akan kembali. Karena mudah saja jika si pemuda itu menghilang ke negeri yang jauh.


Hari ketiga pun tiba. Orang-orang mulai meragukan kedatangan si pemuda, dan mereka mulai mengkhawatirkan nasib Salman. Salah satu sahabat Rasulullah saw yang paling utama.

Matahari hampir tenggelam, hari mulai berakhir, orang-orang berkumpul untuk menunggu kedatangan si pemuda lusuh. Umar berjalan mondar-mandir menunjukkan kegelisahannya. Kedua pemuda yang menjadi penggugat kecewa karena keingkaran janji si pemuda lusuh.

Akhirnya tiba waktunya penqishashan, Salman dengan tenang dan penuh ketawakkalan berjalan menuju tempat eksekusi. Hadirin mulai terisak, orang hebat seperti Salman akan dikorbankan.

Tiba-tiba di kejauhan ada sesosok bayangan berlari terseok-seok, jatuh, bangkit, kembali jatuh, lalu bangkit kembali.

"Itu dia!" teriak Umar, "Dia datang menepati janjinya!".

Dengan tubuh bersimbah peluh dan nafas tersengal-sengal, si pemuda itu ambruk di pangkuan Umar.

"Hh..hh.. maafkan.. maafkan.. aku.." ujarnya dengan susah payah, "Tak kukira.. urusan kaumku.. menyita..banyak.. waktu..".
"Kupacu.. tungganganku.. tanpa henti, hingga.. ia sekarat di gurun.. terpaksa.. kutinggalkan.. lalu aku berlari dari sana.."


"Demi Allah", ujar Umar menenanginya dan memberinya minum, "Mengapa kau susah payah kembali? Padahal kau bisa saja kabur dan menghilang?"

"Agar.. jangan sampai ada yang mengatakan.. di kalangan Muslimin.. tak ada lagi ksatria.. tepat janji.." jawab si pemuda lusuh.

Mata Umar berkaca-kaca, sambil menahan haru, lalu ia bertanya, "Lalu kau Salman, mengapa mau-maunya kau menjamin orang yang baru saja kau kenal?"

"Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan Muslimin, tidak ada lagi rasa saling percaya dan mau menanggung beban saudaranya", Salman menjawab dengan mantap.

Hadirin mulai banyak yang menahan tangis haru dengan kejadian itu.

"Allahu Akbar!" tiba-tiba kedua pemuda penggugat berteriak, "Saksikanlah wahai kaum Muslimin, bahwa kami telah memaafkan saudara kami itu".

Semua orang tersentak kaget.

"Kalian.." ujar Umar, "Apa maksudnya ini? Mengapa kalian..?" Umar semakin haru.

"Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan Muslimin tidak ada lagi orang yang mau memberi maaf dan sayang kepada saudaranya" ujar kedua pemuda membahana.

"Allahu Akbar!" teriak hadirin.

Pecahlah tangis bahagia, haru dan bangga oleh semua orang.

***

Begitupun kita disini, di saat ini.. sambil menyisipkan sebersit rasa iri karena tak bisa merasakannya langsung bersama saudara-saudara kita pada saat itu..

"Allaahu Akbar...". Laa Ilaa haa Illa Anta Subhaanaka innii kuntu minazhzzhaalimiin...

Recent Post

Tata Cara & Sifat Shalat Nabi

Video Bar

Loading...
 
Blogger Templates